Monday, February 07, 2005

INDONESIA HARUSKAH TERUS MENANGIS

Setiap kita mungkin saat ini harus didera syndrome baru “Disaster Phobia”, setelah rentetan bencana terjadi tanpa kuasa kita hindari karna tak ada pengumuman resmi dari Tuhan
Kalo hari ini, menit ini, detik ini, akan KAU anugrahkan bencana ini bagi kami

Gempa tsunami di Aceh yang dengan beringas dan lahapnya menyantap hidangan manusia dan segala kehidupannya, gempa di palu, gempa di bondowoso, gempa di garut, kebakaran di Riau, banjir musiman di Jakarta, Palembang, Kalimantan dan berbagai tempat lainnya, dan bahkan perkiraan badai dahsyat yang akan melanda Yogjakarta, tanpa sadar telah melambungkan popularitas BMG yang sebelumnya tampak dinafikan keberadaannya, kini dia bagaikan dewa penyelamat yang mampu menjadi cenayang tuk memprediksi apa yang kan terjadi.

Entah apa makna dari semua bencana ini, yang jelas setiap kita punya kuasa tuk memaknai semuanya sesuai dengan selera dan nalar kita
Ini semua takdir yang telah dinohtakan tuhan untuk kita
Ini semua tanda kemurkaan tuhan akan kelalaian dan keangkaraan kita
Ini semua ujian yang tuhan anugerahkan tuk menyeleksi mahkluk pilihanNya
Ini semua adalah kiamat shugra yang harus kita hadapi sebagai pengantar menuju kiamat yang sesungguhnya

Apakah Indonesia memang harus ditakdirkan tuk terus menangisi penderitaan yang tanpa henti, silih berganti terjadi?


Air mata dan ratap tangis tak sanggup mengubah yang seharusnya terjadi
Disaster phobia kini meraja lela dimana-mana
Adakah obat mujarab tuk menyembuhkannya
Dokter, orang pintar mana yang bisa meracik resep dan obatnya

semua asumsi dan pertanyaan yang meluap tanpa henti dari tiap benak kita akan terjawab dengan sendirinya seiring menguatnya keyakinan yang kita bangun.
Yamg siapa tau itu bisa menjadi pelajaran spiritual berharga bagi kita

Sepertinya ketakutan ini bermuara dari ketidaksiapan kita menyambut kematian, menyapa kesengsaraan dan merangkul penderitaan
Kita terlalu terbuai kenikmatan semu yang ditawarkan kehidupan semu ini
Benturkanlah diri kita pada kenyataan
kala raga tak lagi kuasa merangkul nyawa
Kekuatan apapun tak kan mampu mencegahnya

0 Comments:

Post a Comment

<< Home