Wednesday, April 06, 2005

CINTA DAN WAKTU

 
 
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai
macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan,
Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup
berdampingan dengan baik. 
 
Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau
kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan
menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau
cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat
kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak
mempunyai perahu. 
 
Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.
Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak
lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. 
 
"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
 
"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah
penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu
serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada
tempat lagi bagimu di perahuku ini." 
 
Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya
Kegembiraan lewat dengan perahunya. 
 
"Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. 
 
Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan
perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. 
 
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang
dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.
 
 
"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.
 
"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa
membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang
indah ini." sahut Kecantikan.
 
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis
terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.
 
"Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.
 
"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian
saja ...." kata Kesedihan sambil terus mengayuh
perahunya.
 
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan
menenggelamkannya.
 
Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara,
"Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" 
 
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang
tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu
itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. 
 
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan
segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar
bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua
yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya
kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa
sebenarnya orang tua itu. 
 
"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu," kata orang
itu.
 
"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun
enggan menolongku," tanya Cinta heran. 
 
"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu
berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home